A Greet Feeling at a Great Moment: Love

“Berawal dari tatap”, kata si Yura Yunita penyanyi solo perempuan di Indonesia.

Tentu saja. Sebagai jendela hati, mata harus mampu menangkap apapun yang ia temui lalu mengirimnya ke ruang hati. Ia harus telaten memilih di mana ia menempatkan titik fokusnya, untuk kemudian dimasukkan ke dalam frame hati menjadi satu pajangan yang enak dilihat. Kapan ia bekerja, dan kapan ia tidak dibutuhkan. Kapan harus terbuka, kapan ia tertutup rapat. Namanya saja jendela hati, maka mata merupakan satu kekayaan yang saaangat berguna dan berharga, menjadi salah satu kekuatan dalam melihat. Melihat bukan hanya sekedar apa yang nampak tapi lebih dari itu. Namun tetap yang memutuskan itu adalah, hati.

Kita beranjak ke realita dulu. Banyak sekali orang yang jatuh cinta, lalu menjalaninya sesuai “kehendak hati”, katanya. Semau sesukanya. Banyak. Dan kita tak bisa mengelak kenyataan ini. Contoh, ada seorang perempuan dan laki-laki “saling cinta”, katanya. Si perempuan adalah anak orang kaya. Si laki anak orang tak mampu. Sebut saja namanya adalah Dini dan Dono. Dini selalu memberi apa yang Dono minta, meskipun kerap kali Dono mengeluarkan kata-kata kasar terhadapnya. Kecewa memang yang dirasakan Dini. Namun ada saja yang membuatnya mempertahankan Dono, orang yang katanya dia kasihi itu. Contoh lain, sebut saja Indi dan Ondo. Mereka saling cinta katanya. Kemana-mana biasa berdua. Makan saling suapin. Sehari tak bertemu serasa sewindu. Dan masih banyak contoh serupa tentang “jatuh cinta” dan bagaimana menjalani cinta ala anak muda sekarang (kebanyakan).

Siapa sih yang hatinya tak tersulap seketika menjadi taman bunga dengan semerbak wewangian saat dihampiri perasaan yang satu ini? Hampir semua insan pernah merasakannya. Saat cinta datang, apapun di sekelilingnya terhipnotis. Yang layu jadi mekar. Yang beku jadi cair. Yang keras jadi lunak. Mendadak. Hipnotisnya sulit ditolak. Wajar, perasaan yang begitu diagungkan oleh seluruh insan itu tentu saja dengan mudah melakukannya. Ia punya kekuatan. Lebih kuat dari petinju dunia yang tak terkalahkan. Banyak sudah otak yang mencoba menafsirkannya. Namun tak satupun pengertian yang benar-benar mampu merangkum dan mewakili satu kata “cinta” itu dengan sempurna, utuh, tepat. Di tulisan ini, tidak ada pengertian tentang cinta. Karena cinta hanya bisa didefinisikan oleh cinta itu sendiri.

Berbicara tentang “cinta” dan jatuh cinta memang tak akan ada habisnya. Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seseorang itu menjalani perasaan yang mereka katakan “cinta”. Apakah mereka menjalaninya sesuai batas pemahaman dirinya sendiri? Apa hanya sebatas apa yang menurut mereka benar? Atau sesuai kah dengan apa yang diinginkan oleh Yang Menciptakan rasa cinta itu? Tapi yang pasti ada beberapa jenis cinta yang tak terbantahkan: cinta Tuhan pada hambaNYA, cinta seorang ibu pada anaknya, dan cinta seorang lelaki/perempuan terhadap seorang kekasih halalnya. Akan tetapi, begitu banyak anak muda sekarang yang mengumbar-umbar kata cinta pada seorang lelaki atau perempuan yang belum menjadi pasangan halalnya. Yang memperparah, tidak sedikit dari mereka yang menjalani hari-hari layaknya suami istri. Bahkan melakukan –maaf- physical touch. Lagi, saya ingin bilang bahwa cinta itu harusnya diungkapkan dan dijalani pada momen yang tepat dengan cara yang tak merugikan pencinta itu sendiri.

Specifically, cinta memang bisa termasuk cinta seorang ibu pada anaknya atau cinta seseorang pada istri/suaminya. Namun sebenarnya, cinta tidak sesempit itu. Saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang berjudul “The Librarian”. Film itu menceritakan seorang lelaki yang menjadi penjaga perpustakaan atau dalam Bahasa Inggris The Librarian. Ada satu scene yang di dalamnya terdapat sebuah kalimat menakjubkan ketika lelaki tersebut diwawancarai sebagai calon penjaga perpustakaan. Interviewernya bertanya pada lelaki tersebut, what is more important than knowledge?” Lelaki tersebut menjawab, “The things that make life worth living can’t be thought here (sambil menunjuk kepalanya), they must be felt here (sambil menunjuk ke dadanya).” dari kalimat ini saya bisa sedikit melihat bahwa pada dasarnya apapun rasa yang ada dalam hati itu adalah anak dari kebaikan. Dan kebaikan adalah cinta. Iya. Segala bentuk kebaikan adalah wujud cinta, menurut saya. Kalimat dalam scene film The Librarian itu menjelaskan betapa berharganya cinta. Ia ada di dalam hati. Tumbuh di sana. Dan terpancar dari perlakuan seluruh anggota badan. Yang nantinya akan mengubah hidup seseorang menjadi penuh manfaat dan makna. Finally, semoga perasaan yang kita sebut cinta itu bisa dijaga dan diberlakukan sesuai keberhargaannya.