Beranak dan Baby Blues

Punya anak? Wow! Itu yang saya idam-idamkan bahkan sejak sebelum menikah. Saya malah lebih penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dari pada kepoin rasanya menjadi seorang isteri. Kenapa? Karena setiap melihat anak bayi, bawaannya geregetan dan mereka selalu terlihat lucu menggemaskan.

Lalu apa yang terjadi setelah saya menikah dan punya anak? Bahagia? Pasti. Setelah menikah, kemana-mana nggak sendiri, punya forever supporter forever advicer, punya editor untuk setiap perilaku dan cara berpikir saya. Suami saya, he cannot amaze me more!! Saya bahagia dan bersyukur bersamanya. Tapi rasa bahagia setelah punya anak apakah sama? Jelas tidak. Karena lahirnya seorang anak justeru menambah kebahagiaan yang sebelumnya ada. Membuatnya lebih sempurna. Tapi masalahnya adalah, rasa bahagia yg sempurna itu nggak datang serta-merta bersamaan dengan lahirnya sang anak. Ada prosesnya. Ada alurnya. Nah, di saat itu lah hantu yang beristilah baby blues itu muncul. Saya mengalaminya, dan bisa jadi teman-teman juga sempat merasakannya. Ah..semoga si baby blues nggak datang-datang lagi lah ya di anak ke dua ke tiga dan seterusnya nanti. Aamiin.
Btw, teman-teman sudah tahu semua kan istilah baby blues? Ialah situasi di mana pikiran, perasaan, dan perilaku seorang ibu di luar batas wajar setelah melahirkan (pengertian ini sih kalimat saya ya. Susah ingetnya kalo pengertian lengkap secara medisnya,hehe). Beberapa contoh perilaku baby blues ya seperti (1) sedikit-dikit nangis, (2) emosian, sampai yang fatal (3) ingin menyakiti bayinya sendiri. Berapa lama orang mengalami baby blues? Saya pernah baca di sebuah artikel, bahwa baby blues ini bisa berlangsung hingga anak berusia 2 tahun. Beda-beda ya untuk setiap ibu. Saya sendiri, momen-momen horor itu terlewat selama kurleb 2 bulan. Setelah itu, alhamdulillah saya saaaangat menikmati profesi baru sebagai seorang ibu untuk bayi saya. I’m totally happy. More than just happy.
Tapi, nggak semua ibu pernah mengalami baby blues. Kok bisa? Bisa, karena berbeda keadaan, berbeda perlakuan dari sekitar. Itu sih menurut saya setelah melihat pengalaman teman dan saya pribadi. Lantas apa yang paling berpengaruh untuk mencegah terjadinya baby blues ini? Jawabannya adalah diri sendiri. Iya. Kita sendiri yang harus apik dalam mengelola setiap rasa dan pikiran yang menghinggapi. Dari dalam diri kita lah kekuatan untuk melawan baby blues itu berasal. Caranya? Berusaha untuk tetap menjaga hati dalam keadaan bersyukur dan bersabar. Kalo begitu, apa bisa dikatakan baby blues juga tergantung dari tinggi rendahnya iman seseorang? Saya setuju. Tapi yang perlu kita ingat, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka naik turunnya iman adalah niscaya. Nah, jika kita ingat ini, apa masih ada alasan untuk kita mengata-ngatai ibu-ibu yang mengalami baby blues? Yuk, saling doakan dan perbaiki diri aja.

Membayangkan Surga ❤️

Nafsu pada dunia akan hilang dalam sekejap jika kita mengingat kebenaran di alam akhirat.

Continue reading

Pernikahan dan Secangkir Kopi

Jika dulu kamu bebas ngigau saat tidur tanpa ada hambatan dan gangguan apapun, jika dulu kamu sepuasnya pegang HP tak pandang waktu, jika dulu kamu santai ngatur jadwal nyuci pakaian kapanpun kamu mau, well.. kamu harus menerima kenyataan bahwa sekarang semua itu sudah masuk ke dalam past behavior list kamu. Dan itu hanya salah tiga dari sejubel kebiasaan yang sering kamu lakukan saat sebelum married alias masih single, yang kamu harus ikhlaskan berubah 1800 jika sudah berstatus married. Haha..

Hampir semua mantan single yang sekarang sudah berstatus married sepertinya mengalami hal yang sama. Dan mau tak mau harus dijalani. Banyak yang membuat diri merasa ‘terpaksa’ beradaptasi dengan lingkungan baru (Eits! don’t get me wrong 🙂 .. ). Banyak juga hal baru bahkan menurut kita aneh namun harus menjadi hal yang biasa dalam anggapan kita dan dijalani dengan penuh penerimaan. Banyak juga kebiasaan-kebiasaan yang totally kita tidak boleh membawanya ke lingkungan dan kehidupan baru setelah menikah. Ikhlas? Jangan ngomongin ikhlas lah ya.. karena ikhlas itu tidak diukur dengan kata “saya ikhlas” yang terucap dari bibir, melainkan dengan kepasrahan hati pada Sang Khalik yang telah mencatat dari awal jalan hidup kita, dan kepasrahan itu akan senantiasa hadir dalam setiap perbuatan sehari-hari kita. ‘asaa an takrahuu syai-an wa hua khairullakum, wa ‘asaa an tuhibbuu syai-an wa hua syarrullakum. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” (QS. 2: 216). Sebagai muslim, harusnya ayat ini bisa menjadi pengingat ketika sesuatu yang terjadi bertentangan dengan kehendak hati. Termasuk ketika menemukan hal baru yang tak biasa dan sulit dipahami. Jalani dan nikmati saja semampunya. Biar Allah yang menilai sejauh mana ikhlas itu terjaga dalam dada 🙂 ..

Nah, sekarang saya ingin bilang bahwa berumahtangga bukan hanya tentang itu. Baaanyak sekali hal baru yang menakjubkan dan membuat tercengang. Banyak juga kebiasaan lama yang dijalani dengan lebih menyenangkan dan terasa sempurna. Belum lagi pemandangan-pemandangan sejuk dan mengharukan yang tak jarang mengundang air mata bahagia. Intinya, semua hal yang akan kamu temui setelah menikah akan membawamu pada kebahagiaan yang tak berjeda, jika dinikmati 🙂 .

Memasuki hari ke-47 pernikahan -masih terbilang sangat muda dan baru-, saya masih asik menikmati masa peralihan dari single menjadi married. Sangat ma’lum bahwa banyak agenda rutin baik kelompok maupun pribadi yang masih tersendat bahkan belum berjalan seperti biasanya. Namanya juga masa peralihan, ya nggak? 🙂 Mungkin ini tantangan special dariNYA agar saya lebih apik lagi mengorganisir kuantitas waktu yang sama dalam kualitas waktu yang berbeda yang saya miliki sekarang ini.

Bicara soal masa peralihan, kedengarannya sedikit gimana gitu ya. Yang namanya masa peralihan ya memang begitu. Kesabaran, semangat, kejutan, pengertian, mendengar, belajar, semuanya ada dalam masa itu. Dan bagi kalian yang belum menikah, saya ingin bilang ke kalian bahwa itu semua sangat mudah untuk dijalani jika kita menikmati setiap alirannya. So to be honest, kalian tidak butuh waktu banyak untuk mempersiapkan diri sebelum menikah khususnya perempuan. Karena selama ini tak sedikit teman saya yang memvonis dirinya dengan ketidaksiapan menjalani pernikahan. Buang jauh-jauh kata “belum siap” jika ada lelaki ‘bagus’ yang mengajak kalian menikah. Karena sebenarnya bukan kesiapan yang mengantar kita pada pernikahan, tapi pernikahan itu lah nantinya yang akan menyulap diri kita menjadi seorang istri yang siap dengan segala keadaan.

Oke, kesiapan seperti apa yang saya maksud di sini? Sebenarnya ada dua hal yang dipikirkan seseorang sebelum menikah: ‘Kesiapan Menikah’ dan ‘Persiapan Pernikahan’. Persiapan pernikahan mencakup hal-hal yang real atau nyata atau nampak contohnya physical treatment dsb.. Kesiapan menikah lebih dimaksudkan ke pribadi orang tersebut seperti kondisi psikologi (psychological readiness) dsb.. Tapi saya cuma ingin bahas sedikit saja. Physical treatment sebelum menikah? Ini sebenarnya masuk ke kategori persiapan, tapi sedikit tidak sangat bisa berpengaruh ke kesiapan pribadi kita. So, perlu? Iya perlu, tapi needed level nya sangat sedikit. Jika boleh saya persentasekan, mungkin hanya 9,9 % 🙂 . Saya bilang begini karena saya sendiri mengalaminya. Sebelum menikah, rasanya rempong nian persiapkan semuanya terutama physical treatment, sampai saat mendekati hari pernikahan, usaha saya untuk tujuan yang saya inginkan itu bisa dibilang failed. Cukup cemas dan mengurangi kepercayaan diri. HahaTapi setelah menikah, semuanya jauh dari apa yang saya bayangkan. Bahagia karena failed mission saya ternyata tak berpengaruh sama sekali. Please listen to me, lelaki yang ingin menikahimu pastilah lelaki yang tak memandang hanya kecantikan fisikmu, tapi juga kecantikan yang tak terjamah oleh mata namun mampu terpancar sampai ke hati siapapun yang di dekatmu.

Sekarang bagaimana dengan psychological readiness? Memang perlu juga tapi bukan hal yang utama. Karena lambat laun, kesiapan psikologi akan terbentuk dengan sendirinya. Kesiapan psikologi berarti sejauh mana kesiapan kita untuk melakukan suatu tugas tertentu untuk menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) (VandenBos, 2007). Jika dicerna dari pengertian tersebut, maka kesiapan psikologi akan menjadi matang seiring pengalaman-pengalaman yang dilalui dalam rumah tangga yang kemudian dijadikan bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Kita bicara di luar konteks usia ya teman-teman. Karena dari konteks usia beda lagi. Ada kesehatan de el el yang perlu didiskusikan. Itu kenapa sampai saat ini Pernikahan Dini masih menjadi perbincangan yang hangat. Oke, kita lewati masalah usia ya. Sekali lagi, kesiapan psikologi tak seharusnya menjadi pertimbangan yang berarti untuk menjemput pernikahan kita. Dalam hal ini, bisa dibilang pemimpin rumah tangga sangat berperan penting dalam membentuk kesiapan psikologi seorang istri. Jika benar dan baik memimpinnya, maka benar dan baik pula sesuatu yang dipimpin. Itu lah kenapa sebelumnya saya bilang jika ada lelaki ‘bagus’ jangan diundur waktu pernikahanmu apalagi ditolak. Tentu yang saya maksud di sini adalah bagus agama dan dunianya. Intinya ketika ada sosok baik yang ingin mempersuntingnmu, itu berarti menurut Allah kamu sudah siap secara mental dan fisik. No matter apa kata orang di luar sana, karena keberkahan dan kebahagiaan yang akan kamu temui setelah menikah sungguh tiada tara 🙂

Persis seperti secangkir kopi, pernikahan memuat pahit dan manisnya perjalanan. Iya, seperti perpaduan kopi dan gula yang menjadikannya secangkir kopi lezat, begitu lah cermin pernikahan yang memadukan perjalanan pahit dan manis lalu membentuk sebuah rasa bernama bahagia. Karena bahagia bukan hanya tentang kesenangan, tapi juga kesedihan. Kesenangan dan kesedihan yang dilalui bersama dengan penerimaan dan cinta 🙂

Note: tulisan di atas cuma opini penulis. Kebenaran hanya milikNYA.. 🙂

 

A Greet Feeling at a Great Moment: Love

“Berawal dari tatap”, kata si Yura Yunita penyanyi solo perempuan di Indonesia.

Tentu saja. Sebagai jendela hati, mata harus mampu menangkap apapun yang ia temui lalu mengirimnya ke ruang hati. Ia harus telaten memilih di mana ia menempatkan titik fokusnya, untuk kemudian dimasukkan ke dalam frame hati menjadi satu pajangan yang enak dilihat. Kapan ia bekerja, dan kapan ia tidak dibutuhkan. Kapan harus terbuka, kapan ia tertutup rapat. Namanya saja jendela hati, maka mata merupakan satu kekayaan yang saaangat berguna dan berharga, menjadi salah satu kekuatan dalam melihat. Melihat bukan hanya sekedar apa yang nampak tapi lebih dari itu. Namun tetap yang memutuskan itu adalah, hati.

Kita beranjak ke realita dulu. Banyak sekali orang yang jatuh cinta, lalu menjalaninya sesuai “kehendak hati”, katanya. Semau sesukanya. Banyak. Dan kita tak bisa mengelak kenyataan ini. Contoh, ada seorang perempuan dan laki-laki “saling cinta”, katanya. Si perempuan adalah anak orang kaya. Si laki anak orang tak mampu. Sebut saja namanya adalah Dini dan Dono. Dini selalu memberi apa yang Dono minta, meskipun kerap kali Dono mengeluarkan kata-kata kasar terhadapnya. Kecewa memang yang dirasakan Dini. Namun ada saja yang membuatnya mempertahankan Dono, orang yang katanya dia kasihi itu. Contoh lain, sebut saja Indi dan Ondo. Mereka saling cinta katanya. Kemana-mana biasa berdua. Makan saling suapin. Sehari tak bertemu serasa sewindu. Dan masih banyak contoh serupa tentang “jatuh cinta” dan bagaimana menjalani cinta ala anak muda sekarang (kebanyakan).

Siapa sih yang hatinya tak tersulap seketika menjadi taman bunga dengan semerbak wewangian saat dihampiri perasaan yang satu ini? Hampir semua insan pernah merasakannya. Saat cinta datang, apapun di sekelilingnya terhipnotis. Yang layu jadi mekar. Yang beku jadi cair. Yang keras jadi lunak. Mendadak. Hipnotisnya sulit ditolak. Wajar, perasaan yang begitu diagungkan oleh seluruh insan itu tentu saja dengan mudah melakukannya. Ia punya kekuatan. Lebih kuat dari petinju dunia yang tak terkalahkan. Banyak sudah otak yang mencoba menafsirkannya. Namun tak satupun pengertian yang benar-benar mampu merangkum dan mewakili satu kata “cinta” itu dengan sempurna, utuh, tepat. Di tulisan ini, tidak ada pengertian tentang cinta. Karena cinta hanya bisa didefinisikan oleh cinta itu sendiri.

Berbicara tentang “cinta” dan jatuh cinta memang tak akan ada habisnya. Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seseorang itu menjalani perasaan yang mereka katakan “cinta”. Apakah mereka menjalaninya sesuai batas pemahaman dirinya sendiri? Apa hanya sebatas apa yang menurut mereka benar? Atau sesuai kah dengan apa yang diinginkan oleh Yang Menciptakan rasa cinta itu? Tapi yang pasti ada beberapa jenis cinta yang tak terbantahkan: cinta Tuhan pada hambaNYA, cinta seorang ibu pada anaknya, dan cinta seorang lelaki/perempuan terhadap seorang kekasih halalnya. Akan tetapi, begitu banyak anak muda sekarang yang mengumbar-umbar kata cinta pada seorang lelaki atau perempuan yang belum menjadi pasangan halalnya. Yang memperparah, tidak sedikit dari mereka yang menjalani hari-hari layaknya suami istri. Bahkan melakukan –maaf- physical touch. Lagi, saya ingin bilang bahwa cinta itu harusnya diungkapkan dan dijalani pada momen yang tepat dengan cara yang tak merugikan pencinta itu sendiri.

Specifically, cinta memang bisa termasuk cinta seorang ibu pada anaknya atau cinta seseorang pada istri/suaminya. Namun sebenarnya, cinta tidak sesempit itu. Saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang berjudul “The Librarian”. Film itu menceritakan seorang lelaki yang menjadi penjaga perpustakaan atau dalam Bahasa Inggris The Librarian. Ada satu scene yang di dalamnya terdapat sebuah kalimat menakjubkan ketika lelaki tersebut diwawancarai sebagai calon penjaga perpustakaan. Interviewernya bertanya pada lelaki tersebut, what is more important than knowledge?” Lelaki tersebut menjawab, “The things that make life worth living can’t be thought here (sambil menunjuk kepalanya), they must be felt here (sambil menunjuk ke dadanya).” dari kalimat ini saya bisa sedikit melihat bahwa pada dasarnya apapun rasa yang ada dalam hati itu adalah anak dari kebaikan. Dan kebaikan adalah cinta. Iya. Segala bentuk kebaikan adalah wujud cinta, menurut saya. Kalimat dalam scene film The Librarian itu menjelaskan betapa berharganya cinta. Ia ada di dalam hati. Tumbuh di sana. Dan terpancar dari perlakuan seluruh anggota badan. Yang nantinya akan mengubah hidup seseorang menjadi penuh manfaat dan makna. Finally, semoga perasaan yang kita sebut cinta itu bisa dijaga dan diberlakukan sesuai keberhargaannya.

Gelap

Kutemukan ‘ia’ saat segalaku tak berarah
ia mengiba tuk singgah
Hiburi hati hingga bermegah
Siapa sangka, ia kah cahaya? Dusta?
Sampai memandang tak melihat
Sampai mendengar tak menyimak
Hingga tau tak paham

Sadarkah?
Dalam jiwa tenggelam

Pun sesinar tiada sapa
Adakah Yang Melihat?
Adakah Yang Mendengar?
Gelap…

Bertanya pada mereka terjawab peluh
Bercermin pada air namun keruh
Lalu kuberlari menjauh dengan bimbang penuh
Ku terus bertanya, ada kah tujuku?

Satu-satu berhimpun celah
Hingga tersapa cahaya membias
Terangkan tanda Yang Melihat
Jelaskan jejak Yang Mendengar
Gelap…

Rupanya ia tulinya hati
Rupanya ia butanya jiwa
Perlahan saksikanlah..
Cahaya selipkan untung
Tak tentu sama dengan yang serupa
Sungguh, diri Ada Yang Mencinta