Sikap Nabi terhadap yang ‘awam’ ✌

Suatu ketika ada seorang Badui pedalaman datang kepada Nabi SAW untuk meminta sesuatu. Nabi SAW memenuhi (memberikan) apa yang dimintanya, kemudian bersabda, “Apakah aku sudah berbuat baik kepadamu??”

Di luar dugaan, orang Badui itu berkata, “Belum, engkau belum berbuat baik!!”

Para sahabat yang berkumpul di sekitar beliau terkejut dan marah dengan jawaban si Badui itu, bahkan ada yang berkata (sebagian riwayat menyebutkan adalah Umar bin Khaththab), “Ya Rasulullah, serahkanlah orang ini kepadaku, biarkan saya membunuhnya!!”

Nabi SAW mencegah para sahabat untuk berbuat sesuatu yang mencelakakan si Badui. Beliau mengajaknya ke dalam rumah dan mengambil sesuatu untuk diberikan sebagai tambahan, lalu bersabda lagi, “Apakah aku sudah berbuat baik kepadamu??”

Si Badui berkata, “Benar, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, juga kepada semua keluargamu!!”

Dalam riwayat lain disebutkan, si Badui berkata seperti itu setelah Nabi SAW memberikan sesuatu untuk ke tiga kalinya.

Nabi SAW sangat senang dengan jawabannya tersebut dan bersabda, “Engkau tadi mengatakan sesuatu yang membuat para sahabatku marah. Jika engkau mau mengatakan perkataanmu (yang terakhir itu) sekali lagi di hadapan mereka, tentulah hal itu bisa menghilangkan kemarahan mereka kepadamu, dan hal itu sangat baik sekali!!”

“Baiklah,“ Kata si Badui.

Nabi SAW membawa si Badui itu kepada para sahabat yang masih berkumpul dan bersabda, “Orang desa ini mengatakan sesuatu sebagaimana yang telah kalian dengar. Lalu aku memberikan tambahan pemberian, dan ia merasa puas, bukankah demikian wahai orang desa??”

Si Badui berkata, “Benar, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, juga kepada semua keluargamu!!”

Tampak para sahabat menjadi gembira, dan kemarahan mereka kepada si Badui seketika hilang. Wajah Nabi SAW tampak bersinar, pertanda beliau sangat gembira melihat reaksi para sahabat tersebut. Kemudian beliau bersabda, “Aku dan orang desa ini ibarat seseorang dengan untanya yang berontak dan lari…”

Kemudian Nabi SAW meneruskan penjelasannya, bahwa pada umumnya orang-orang akan berlari mengejarnya untuk menangkapnya. Tetapi hal itu hanya membuat untanya berlari makin jauh. Pemilik unta itu akan berkata kepada orang-orang, “Biarkan unta itu, aku lebih tahu dan lebih dapat bersikap lemah lembut kepadanya!!”

Setelah itu sang pemilik akan berjalan ke tempat untanya dan mengambil sejumlah sampah dari tanah. Ia akan melambai-lambaikan sampah itu sambil memanggil sang unta, maka perlahan-lahan unta itu akan datang mendekat dan tenang kembali. Maka dengan mudah ia akan bisa mengikatnya kembali.

Nabi SAW bersabda lagi, “Jika aku membiarkan kalian dengan perkataan orang desa ini yang pertama, niscaya kalian akan membunuhnya dan ia pasti akan masuk neraka!!”

#diambil dari buku kisah Nabi Muhammad 🙂

Fathimah az-zahra rha dan Gilingan Gandum

liga ahad pagi

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”. Fathimah rha. berkata, “ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis”. Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”. Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada…

View original post 659 more words

Abdul Kadir Jailany

liga ahad pagi

Syekh Abdur Qadir Jilany adalah adalah imam yang zuhud dari kalangan sufi. Nama lengkap beliau adalah Abdul Qadir bin Abi Sholih Abdulloh bin Janki Duwast bin Abi Abdillah bin Yahya bin Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdillah bin Musa al-Hauzy bin Abdulloh al-mahdh bin Al-Hasan al-mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani dinisbahkan ke sebuah tempat di dekat thobristan yaitu Jiil, atau Jilan atau Kilan

Beliau lahir tahun 471 H di Jailan. Di masa mudanya beliau pergi ke Baghdad dan belajar dari al-Qadhy Abi Sa’d al-Mukhorromy. Beliau pun banyak meriwayatkan hadits dari sejumlah ulama pada masa itu di antaranya; Abu Gholib al-Baqillany dan Abu Muhammad Ja’far as-Sirraj.

Syekh ‘Izuddin bin Abdissalam mengatakan: “Tidak ada seorangpun yang karamahnya diriwayatkan secara mutawatir kecuali Syekh Abdul Qadir Jiilany.” Syekh Nuruddin asy-Syathonufy al-Muqry mengarang sebuah buku yang menjelaskan tentang sirah dan karamah beliau dalam 3 jilid, dalam buku tersebut dikumpulkan semua…

View original post 197 more words