Image ‘Konsumtif’ di Lain Sisi

Ehm.. Selamat pagi semuanya… Yang muslim, apa kabar puasanya hari ini? Semoga tetap semangat dan seterong yah jalanin puasa..

Ngomongin puasa, paling nikmat tuh pas buka, ya nggak? Biasanya anak-anak atau adik-adik tuh paling nungguin yang namanya buka. Giliran rempongnya, ibu aja deh yang punya bagian mulai dari persiapan buka sampai persiapan sahur. Nah ibu-ibu kadang sering kebablasan nih dalam mempersiapkan buka khususnya. Niat hati ingin makan ini ono lalu masak lauk pauk yang banyak. Lah…pas buka malah yang kemakan cuman satu atau dua jenis lauk. Yang lain banyakan sisa. Walaupun disimpan buat sahur, seringkali sensasi rasanya akan berbeda dengan yang masih fresh. Nah itu boros nggak sih? Boros kan? hihiii

Biasanya perilaku boros ini sering muncul dari orang yang pola hidupnya konsumtif. Orang dengan pola hidup konsumtif itu ketika orang tersebut terbiasa membelanjakan uangnya dalam jumlah banyak untuk membeli barang yang diinginkan. Nggak perlu nunggu butuh dulu baru beli. Sekalinya iler keluar ngeliat barang, langsung cus dah tu duit berjatuhan dari dompet. hehe

Bicara masalah konsumtif nih, biasanya kan image ‘konsumtif’ itu cenderung buruk ya di masyarakat. Boros lah, serakah lah, dan juga dikenal individualis. Tapi nggak semua orang konsumtif itu individualis loh ya, banyak juga orang dengan pola hidup konsumtif yang well-socialized banget. Nah.. ini dia yang ingin saya sajikan dalam tulisan ini: menilai pola hidup konsumtif dari sisi yang lain.

Selain sisi negatif (you know lah ya) yang sebagian besar orang nilai dalam pola hidup konsumtif, kita jarang menyadari bahwa ada juga nilai positifnya yang bisa dilihat. Di antaranya adalah dampak dari pola hidup konsumtif orang yang dermawan. Ada banyak orang yang konsumtif tapi juga dermawan. Karena mereka sering membeli barang-barang baru, jadi barang-barang lama milik mereka disedekahkan. Hasilnya, banyak dari orang-orang yang tidak mampu menjadi terbantu (“seandainya semua orang yang konsumtif itu dermawan ya…”hehe)

Selain itu, orang dengan pola hidup konsumtif juga secara tidak langsung ikut membantu perekonomian teman-temannya yang berjualan (mengingat akhir-akhir ini banyak sekali teman-teman yang pindah profesi sebagai seorang pedagang). Contoh sehari-hari nih, bagi orang yang konsumtif dalam pakaian misalnya, lalu ada temannya yang jual pakaian dengan kualitas yang diinginkan, sudah bisa ditebak kan? Ya. Dia akan memburu dagangan temannya tersebut setiap kali ada model baru.

Nilai positif lainnya adalah, semakin banyak orang dengan pola hidup konsumtif, semakin banyak pula barang atau permintaan yang akan dijual oleh semakin banyak orang atau produsen. Thus, bisa membuka lapangan pekerjaan kan untuk orang-orang yang tadinya berprofesi sebagai Pengacara (PENGAngguran banyak aCARA -acara tidur, acara makan, acara nongkrong, de el el-) ?

Itu lah beberapa nilai positif dari pola hidup konsumtif. Tapi tunggu dulu! Tujuan tulisan ini semata-mata mengajak kita semua untuk menilai sesuatu bukan hanya dari satu sisi. Karena to decide something perfectly, we need to consider it justly yaitu dengan mempertimbangkan nilai positif sekaligus nilai negatif di dalamnya. Jadi walaupun di tulisan ini saya membahas tentang nilai positif dari pola hidup konsumtif, bukan berarti saya menyarankan untuk hidup konsumtif ya. Tetap, kita harus pertimbangkan dulu dampak positif dan negatifnya. However, hidup sederhana tetap jauh lebih indah 🙂

Advertisements

Pernikahan dan Secangkir Kopi

Jika dulu kamu bebas ngigau saat tidur tanpa ada hambatan dan gangguan apapun, jika dulu kamu sepuasnya pegang HP tak pandang waktu, jika dulu kamu santai ngatur jadwal nyuci pakaian kapanpun kamu mau, well.. kamu harus menerima kenyataan bahwa sekarang semua itu sudah masuk ke dalam past behavior list kamu. Dan itu hanya salah tiga dari sejubel kebiasaan yang sering kamu lakukan saat sebelum married alias masih single, yang kamu harus ikhlaskan berubah 1800 jika sudah berstatus married. Haha..

Hampir semua mantan single yang sekarang sudah berstatus married sepertinya mengalami hal yang sama. Dan mau tak mau harus dijalani. Banyak yang membuat diri merasa ‘terpaksa’ beradaptasi dengan lingkungan baru (Eits! don’t get me wrong 🙂 .. ). Banyak juga hal baru bahkan menurut kita aneh namun harus menjadi hal yang biasa dalam anggapan kita dan dijalani dengan penuh penerimaan. Banyak juga kebiasaan-kebiasaan yang totally kita tidak boleh membawanya ke lingkungan dan kehidupan baru setelah menikah. Ikhlas? Jangan ngomongin ikhlas lah ya.. karena ikhlas itu tidak diukur dengan kata “saya ikhlas” yang terucap dari bibir, melainkan dengan kepasrahan hati pada Sang Khalik yang telah mencatat dari awal jalan hidup kita, dan kepasrahan itu akan senantiasa hadir dalam setiap perbuatan sehari-hari kita. ‘asaa an takrahuu syai-an wa hua khairullakum, wa ‘asaa an tuhibbuu syai-an wa hua syarrullakum. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” (QS. 2: 216). Sebagai muslim, harusnya ayat ini bisa menjadi pengingat ketika sesuatu yang terjadi bertentangan dengan kehendak hati. Termasuk ketika menemukan hal baru yang tak biasa dan sulit dipahami. Jalani dan nikmati saja semampunya. Biar Allah yang menilai sejauh mana ikhlas itu terjaga dalam dada 🙂 ..

Nah, sekarang saya ingin bilang bahwa berumahtangga bukan hanya tentang itu. Baaanyak sekali hal baru yang menakjubkan dan membuat tercengang. Banyak juga kebiasaan lama yang dijalani dengan lebih menyenangkan dan terasa sempurna. Belum lagi pemandangan-pemandangan sejuk dan mengharukan yang tak jarang mengundang air mata bahagia. Intinya, semua hal yang akan kamu temui setelah menikah akan membawamu pada kebahagiaan yang tak berjeda, jika dinikmati 🙂 .

Memasuki hari ke-47 pernikahan -masih terbilang sangat muda dan baru-, saya masih asik menikmati masa peralihan dari single menjadi married. Sangat ma’lum bahwa banyak agenda rutin baik kelompok maupun pribadi yang masih tersendat bahkan belum berjalan seperti biasanya. Namanya juga masa peralihan, ya nggak? 🙂 Mungkin ini tantangan special dariNYA agar saya lebih apik lagi mengorganisir kuantitas waktu yang sama dalam kualitas waktu yang berbeda yang saya miliki sekarang ini.

Bicara soal masa peralihan, kedengarannya sedikit gimana gitu ya. Yang namanya masa peralihan ya memang begitu. Kesabaran, semangat, kejutan, pengertian, mendengar, belajar, semuanya ada dalam masa itu. Dan bagi kalian yang belum menikah, saya ingin bilang ke kalian bahwa itu semua sangat mudah untuk dijalani jika kita menikmati setiap alirannya. So to be honest, kalian tidak butuh waktu banyak untuk mempersiapkan diri sebelum menikah khususnya perempuan. Karena selama ini tak sedikit teman saya yang memvonis dirinya dengan ketidaksiapan menjalani pernikahan. Buang jauh-jauh kata “belum siap” jika ada lelaki ‘bagus’ yang mengajak kalian menikah. Karena sebenarnya bukan kesiapan yang mengantar kita pada pernikahan, tapi pernikahan itu lah nantinya yang akan menyulap diri kita menjadi seorang istri yang siap dengan segala keadaan.

Oke, kesiapan seperti apa yang saya maksud di sini? Sebenarnya ada dua hal yang dipikirkan seseorang sebelum menikah: ‘Kesiapan Menikah’ dan ‘Persiapan Pernikahan’. Persiapan pernikahan mencakup hal-hal yang real atau nyata atau nampak contohnya physical treatment dsb.. Kesiapan menikah lebih dimaksudkan ke pribadi orang tersebut seperti kondisi psikologi (psychological readiness) dsb.. Tapi saya cuma ingin bahas sedikit saja. Physical treatment sebelum menikah? Ini sebenarnya masuk ke kategori persiapan, tapi sedikit tidak sangat bisa berpengaruh ke kesiapan pribadi kita. So, perlu? Iya perlu, tapi needed level nya sangat sedikit. Jika boleh saya persentasekan, mungkin hanya 9,9 % 🙂 . Saya bilang begini karena saya sendiri mengalaminya. Sebelum menikah, rasanya rempong nian persiapkan semuanya terutama physical treatment, sampai saat mendekati hari pernikahan, usaha saya untuk tujuan yang saya inginkan itu bisa dibilang failed. Cukup cemas dan mengurangi kepercayaan diri. HahaTapi setelah menikah, semuanya jauh dari apa yang saya bayangkan. Bahagia karena failed mission saya ternyata tak berpengaruh sama sekali. Please listen to me, lelaki yang ingin menikahimu pastilah lelaki yang tak memandang hanya kecantikan fisikmu, tapi juga kecantikan yang tak terjamah oleh mata namun mampu terpancar sampai ke hati siapapun yang di dekatmu.

Sekarang bagaimana dengan psychological readiness? Memang perlu juga tapi bukan hal yang utama. Karena lambat laun, kesiapan psikologi akan terbentuk dengan sendirinya. Kesiapan psikologi berarti sejauh mana kesiapan kita untuk melakukan suatu tugas tertentu untuk menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) (VandenBos, 2007). Jika dicerna dari pengertian tersebut, maka kesiapan psikologi akan menjadi matang seiring pengalaman-pengalaman yang dilalui dalam rumah tangga yang kemudian dijadikan bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Kita bicara di luar konteks usia ya teman-teman. Karena dari konteks usia beda lagi. Ada kesehatan de el el yang perlu didiskusikan. Itu kenapa sampai saat ini Pernikahan Dini masih menjadi perbincangan yang hangat. Oke, kita lewati masalah usia ya. Sekali lagi, kesiapan psikologi tak seharusnya menjadi pertimbangan yang berarti untuk menjemput pernikahan kita. Dalam hal ini, bisa dibilang pemimpin rumah tangga sangat berperan penting dalam membentuk kesiapan psikologi seorang istri. Jika benar dan baik memimpinnya, maka benar dan baik pula sesuatu yang dipimpin. Itu lah kenapa sebelumnya saya bilang jika ada lelaki ‘bagus’ jangan diundur waktu pernikahanmu apalagi ditolak. Tentu yang saya maksud di sini adalah bagus agama dan dunianya. Intinya ketika ada sosok baik yang ingin mempersuntingnmu, itu berarti menurut Allah kamu sudah siap secara mental dan fisik. No matter apa kata orang di luar sana, karena keberkahan dan kebahagiaan yang akan kamu temui setelah menikah sungguh tiada tara 🙂

Persis seperti secangkir kopi, pernikahan memuat pahit dan manisnya perjalanan. Iya, seperti perpaduan kopi dan gula yang menjadikannya secangkir kopi lezat, begitu lah cermin pernikahan yang memadukan perjalanan pahit dan manis lalu membentuk sebuah rasa bernama bahagia. Karena bahagia bukan hanya tentang kesenangan, tapi juga kesedihan. Kesenangan dan kesedihan yang dilalui bersama dengan penerimaan dan cinta 🙂

Note: tulisan di atas cuma opini penulis. Kebenaran hanya milikNYA.. 🙂

 

Successful “Modus”

Rasa yang aneh. Apa iya hanya gegara kripik pisang manis? Terlalu fiktif jika hanya itu alasannya. Tapi itu akan jadi benar bila kalian sedang berlakon dalam FTV. Rasanya ini masih di dunia nyata. Tapi Kembang, mengapa begitu sulit menerjemahkan apa yang sedang terjadi? Mengapa begitu kaku bibirmu bergerak untuk mengaku pada dunia yang setiap denting menyaksikan gerak gerikmu? Kamu tak perlu menutupi dan banyak basa basi. Cukup katakan seadanya, sejelasnya.

Aku ingin bertanya apa pernah kamu mengalami hal itu sebelumnya? Jika jawabanmu “tidak”, aku janji tak akan memaksamu menjelaskan rasa yang aneh itu.

“Saya gak nyangka.. ternyata yang saya pikirin selama ini…saya bahagia banget” dengan senyuman merekah Kembang ucapkan dalam hati kalimat itu, berkali-kali.

Pernah kah melihat orang yang senyum-senyum sendiri saat sedang membaca SMS dari seseorang? Atau saat sedang terlihat memikirkan sesuatu? Itu yang dilakukan Kembang akhir-akhir ini. Bukan. Bukan jatuh cinta. Kembang tidak akan jatuh cinta pada seseorang yang tidak dia panggil dengan panggilan “zauji”. Ini adalah janjinya sejak SMA. Dan selama ini Kembang selalu setia terhadap janjinya yang satu itu. Sejak SMA empat tahun lalu, beberapa cowok yang dikenal hebat di sekolahnya mendekati Kembang dan ingin memacarinya. Namun dia bertekad untuk tak akan pacaran. Kali ini, apa tekad itu masih sekuat dulu? Ah.. rasanya mesti ada yang berubah. Apalagi Kembang semenjak kuliah mengenal lebih banyak orang, ditambah lagi dengan banyaknya laki-laki hebat yang membuatnya kagum yang seringkali berurusan dengannya dan membuatnya harus berkomunikasi langsung maupun tak langsung. Pasti lah ada yang berubah dari cara berpikir Kembang tentang “pacaran”. Jika sebelumnya dia berpikir bahwa pacaran itu hanya buang-buang waktu dan tenaga untuk hal yang tak penting dan tak jelas ujungnya, maka sekarang bisa saja Kembang berpikir bahwa pacaran itu sebenarnya ajang untuk saling memotivasi, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menyemangati untuk mewujudkan mimpi, bla bla bla. Ini persis alibi anak muda zaman ini ketika mendengar ungkapan “jauhi pacaran”.

“Boleh saya diajarin Bahasa Inggris?” SMS dari seseorang yang selama ini banyak mengisi pikiran Kembang.

“Tuhaaan modus apa lagi ini? Tapi kalo modusnya dari dia, ……..? hahaha” Yah, wajar Kembang berkata seperti itu. Selama ini dia banyak menerima ucapan atau pun perlakuan yang sering disebut dengan istilah “modus”. Perempuan yang baik itu yang bisa melihat dan menganalisis ucapan dan perlakuan laki-laki yang rada-rada terhadapnya. Jika ada aroma modus dan kamu tak suka, abaikan dan tinggalkan. Hehe.. Lalu bagaimana dengan modus dari seseorang yang kamu kagumi dan hormati? Aduh, sepertinya ini ceritanya beda lagi. Boleh dibilang, itu modus untungPucuk dicinta ulam pun tiba. hahaha.

“Boleh, kapan mulai belajar?” Tuh kan, Kembang responnya baik plus-plus.

“Besok,hehe. Tapi saya beli buku catatan baru dulu ya buat catet materi dari Kembang”

“Oke”

Hanya dua kali pertemuan untuk belajar Bahasa Inggris. Selainnya? Bisa ditebak. Kini mereka (Kembang dan Dodi) tak lagi memiliki hubungan sebatas teman sharing ilmu. Menurutku tak hanya sebatas itu. Entah lah. Aku pun bingung kategori hubungan mereka itu apa. Menurutmu, jika ada seorang lelaki yang perhatian terhadap seorang perempuan, dan seorang perempuan yang perhatian dan sayang terhadap seorang lelaki, lalu rasa itu membuat mereka sering berkomunikasi, membuat mereka saling membantu tanpa pamrih, bahkan hal merepotkan bisa menjadi menyenangkan baginya, membuat mereka ingin saling memiliki meski tak ada yang saling mengikat, sampai pada merancang masa depan bersama dengan seabrek mimpi yang mereka rangkai berdua, itu dinamakan apa?

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa Kembang sudah memiliki sebuah foto kebanggaan orang tuanya. Iya, foto yang dipajang di dinding rumah Kembang. Nampak di foto itu Kembang sedang bersalam dengan seorang dekan di fakultas tempatnya menimba ilmu, dan mengenakan pakaian yang bernama Toga. Empat bulan berlalu dan sampai pada hari lahir Kembang, 1 Mei 2015. Hari kelahiran menjadi hari spesial untuk sebagian orang. Termasuk Kembang. Walau begitu, dia tak pernah mengharapkan ada perayaan khusus untuk hari lahirnya. Mau merayakan apa? Pencapaian? Pencapaian apa? Atau rasa syukur atas bertambahnya angka yang disebut umur itu? Ada bentuk rasa syukur yang lebih indah dan bermanfaat selain sebuah perayaan. Lagipula, bertambahnya umur bukan menjadikan kita akan tinggal lebih lama di dunia, namun menjelaskan bahwa sisa jatah usia untuk hidup di dunia ini semakin berkurang. Lantas apa yang akan dirayakan?

Tak pernah terduga sebelumnya bahwa 1 Mei menjadi salah satu hari yang membahagiakan bagi Kembang. Saat itu jam 7 malam, tepat setelah selesai semua pekerjaan di tempat Kembang mengabdi setelah wisuda. Seorang atasan meminta Kembang untuk memeriksa sesuatu di ruangan belakang.

“Kamu temuin nggak?” dengan suara yang tinggi agar terdengar oleh Kembang yang berada di ruangan belakang.

“Kayaknya nggak ada mbak, sebentar saya liat-liat lagi”

“Balik dah yuk biarin aja, sini dah”

Kembang segera kembali dari ruangan belakang menuju ruang tengah kemudian berjalan ke arah lobi.

“Happy birthday to you..happy birthday to you.. happy birthday happy birthday… happy birthday to you..”

Sebuah lagu ucapan selamat ulang tahun yang dinyanyikan seseorang yang sangat dikenal. Bisa ditebak kan siapa? Dodi hari itu sengaja minta tolong ke semua teman kerja Kembang agar merahasiakan kedatangannya malam itu. Surprise, niatnya

Speechless. Rona wajah Kembang cukup menjelaskan apa yang dirasakannya malam itu.

“Terima kasih semua..” senyuman merekah dengan mata yang berkaca-kaca Kembang mengucapkan kalimat itu, dan memandang Dodi beberapa detik dengan pandangan bahagia, campur kesal karena sebelumnya Dodi tak pernah berkata apapun tentang surprise malam itu. Jelas lah ya, bukan surprise namanya jika ada pemberitahuan sebelumnya. Tapi intinya, malam itu membuat Kembang sangat bahagia karena ternyata bukan hanya Dodi yang memberi kejutan tapi juga semua teman kerja termasuk atasannya.

Dodi selalu punya cara untuk meyakinkan Kembang bahwa dia lelaki terbaik untuknya. Soal menjaga perasaan Kembang, Dodi jagonya. Dia selalu berusaha agar Kembang tak khawatir atas sesuatu tentang dirinya. Dia paling menjauhi apa yang membuat Kembang cemburu, karena dia tahu betul sifat cemburuan Kembang yang kadang berlebihan. Tapi Dodi selalu bisa memahami itu.

 

A Greet Feeling at a Great Moment: Love

“Berawal dari tatap”, kata si Yura Yunita penyanyi solo perempuan di Indonesia.

Tentu saja. Sebagai jendela hati, mata harus mampu menangkap apapun yang ia temui lalu mengirimnya ke ruang hati. Ia harus telaten memilih di mana ia menempatkan titik fokusnya, untuk kemudian dimasukkan ke dalam frame hati menjadi satu pajangan yang enak dilihat. Kapan ia bekerja, dan kapan ia tidak dibutuhkan. Kapan harus terbuka, kapan ia tertutup rapat. Namanya saja jendela hati, maka mata merupakan satu kekayaan yang saaangat berguna dan berharga, menjadi salah satu kekuatan dalam melihat. Melihat bukan hanya sekedar apa yang nampak tapi lebih dari itu. Namun tetap yang memutuskan itu adalah, hati.

Kita beranjak ke realita dulu. Banyak sekali orang yang jatuh cinta, lalu menjalaninya sesuai “kehendak hati”, katanya. Semau sesukanya. Banyak. Dan kita tak bisa mengelak kenyataan ini. Contoh, ada seorang perempuan dan laki-laki “saling cinta”, katanya. Si perempuan adalah anak orang kaya. Si laki anak orang tak mampu. Sebut saja namanya adalah Dini dan Dono. Dini selalu memberi apa yang Dono minta, meskipun kerap kali Dono mengeluarkan kata-kata kasar terhadapnya. Kecewa memang yang dirasakan Dini. Namun ada saja yang membuatnya mempertahankan Dono, orang yang katanya dia kasihi itu. Contoh lain, sebut saja Indi dan Ondo. Mereka saling cinta katanya. Kemana-mana biasa berdua. Makan saling suapin. Sehari tak bertemu serasa sewindu. Dan masih banyak contoh serupa tentang “jatuh cinta” dan bagaimana menjalani cinta ala anak muda sekarang (kebanyakan).

Siapa sih yang hatinya tak tersulap seketika menjadi taman bunga dengan semerbak wewangian saat dihampiri perasaan yang satu ini? Hampir semua insan pernah merasakannya. Saat cinta datang, apapun di sekelilingnya terhipnotis. Yang layu jadi mekar. Yang beku jadi cair. Yang keras jadi lunak. Mendadak. Hipnotisnya sulit ditolak. Wajar, perasaan yang begitu diagungkan oleh seluruh insan itu tentu saja dengan mudah melakukannya. Ia punya kekuatan. Lebih kuat dari petinju dunia yang tak terkalahkan. Banyak sudah otak yang mencoba menafsirkannya. Namun tak satupun pengertian yang benar-benar mampu merangkum dan mewakili satu kata “cinta” itu dengan sempurna, utuh, tepat. Di tulisan ini, tidak ada pengertian tentang cinta. Karena cinta hanya bisa didefinisikan oleh cinta itu sendiri.

Berbicara tentang “cinta” dan jatuh cinta memang tak akan ada habisnya. Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seseorang itu menjalani perasaan yang mereka katakan “cinta”. Apakah mereka menjalaninya sesuai batas pemahaman dirinya sendiri? Apa hanya sebatas apa yang menurut mereka benar? Atau sesuai kah dengan apa yang diinginkan oleh Yang Menciptakan rasa cinta itu? Tapi yang pasti ada beberapa jenis cinta yang tak terbantahkan: cinta Tuhan pada hambaNYA, cinta seorang ibu pada anaknya, dan cinta seorang lelaki/perempuan terhadap seorang kekasih halalnya. Akan tetapi, begitu banyak anak muda sekarang yang mengumbar-umbar kata cinta pada seorang lelaki atau perempuan yang belum menjadi pasangan halalnya. Yang memperparah, tidak sedikit dari mereka yang menjalani hari-hari layaknya suami istri. Bahkan melakukan –maaf- physical touch. Lagi, saya ingin bilang bahwa cinta itu harusnya diungkapkan dan dijalani pada momen yang tepat dengan cara yang tak merugikan pencinta itu sendiri.

Specifically, cinta memang bisa termasuk cinta seorang ibu pada anaknya atau cinta seseorang pada istri/suaminya. Namun sebenarnya, cinta tidak sesempit itu. Saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang berjudul “The Librarian”. Film itu menceritakan seorang lelaki yang menjadi penjaga perpustakaan atau dalam Bahasa Inggris The Librarian. Ada satu scene yang di dalamnya terdapat sebuah kalimat menakjubkan ketika lelaki tersebut diwawancarai sebagai calon penjaga perpustakaan. Interviewernya bertanya pada lelaki tersebut, what is more important than knowledge?” Lelaki tersebut menjawab, “The things that make life worth living can’t be thought here (sambil menunjuk kepalanya), they must be felt here (sambil menunjuk ke dadanya).” dari kalimat ini saya bisa sedikit melihat bahwa pada dasarnya apapun rasa yang ada dalam hati itu adalah anak dari kebaikan. Dan kebaikan adalah cinta. Iya. Segala bentuk kebaikan adalah wujud cinta, menurut saya. Kalimat dalam scene film The Librarian itu menjelaskan betapa berharganya cinta. Ia ada di dalam hati. Tumbuh di sana. Dan terpancar dari perlakuan seluruh anggota badan. Yang nantinya akan mengubah hidup seseorang menjadi penuh manfaat dan makna. Finally, semoga perasaan yang kita sebut cinta itu bisa dijaga dan diberlakukan sesuai keberhargaannya.

Menjadi Perempuan

IMG_20161127_151559

Di kantor sepi. Kebetulan juga sedang tidak ada kesibukan. Saya mengisi waktu luang dengan mencoba browsing materi yang saya butuhkan untuk melengkapi tulisan yang sedang saya kerjakan sejak kemarin. Setelah mendapatkan apa yang saya cari, saya lalu men-download sebuah buku (dalam bentuk PDF) karya John Gray, seorang penulis yang juga dikenal sebagai philosopher asal Amerika. Saya juga membuka akun facebook saya. Di beranda, yang pertama kali muncul adalah sebuah status dari seorang teman yang menulis kurang lebih seperti ini “Selamat Hari Perempuan Internasional untuk seluruh perempuan Indonesia …..”. statusnya membuat saya tertarik untuk mencari tahu lebih jauh tentang hari ini. Ternyata memang hari ini adalah peringatan International Women’s Day, Hari Perempuan International. Finally saya sadar bahwa mengingat hari-hari bersejarah adalah hal yang sering saya abaikan. Hehe..

Mampir di pikiran saya untuk menulis sesuatu tentang hari ini meskipun awalnya terasa tidak mudah menemukan ide tentang tema apa yang akan saya angkat dan apa sebenarnya yang ingin saya suarakan melalui peringatan hari perempuan ini. Tapi ya begini lah menulis. Jika kita hanya menunggu ide yang menurut kita brilliant, wah.. bisa jadi menulisnya bulan depan tuh. Bisa tertinggal oleh momen dan saya cukup sering mengalaminya. Haha.. Tapi sekarang saya belajar untuk menulis apa yang ada di pikiran tentang sesuatu, kata penulis senior “biarkan ngalir saja..” Ternyata benar, nanti juga ide akan muncul dengan sendirinya.

1 menit, 2 menit, 3 menit berlalu dengan browsing di internet tentang Perayaan International Women’s Day. Thank You GOD.. akhirnya saya dapat satu specific point. Sebelum terlalu jauh kita memikirkan makna hari perempuan dan apa tujuannya, saya ingin kita mereview lagi sebuah kata “perempuan”. Karena jika ingin membahas makna dan tujuan perayaan hari ini, akan lebih menyita waktu dan tentunya butuh untuk lebih serius, hehe.. lagi pula banyak sekali yang sudah memposting tulisannya tentang hal ini. Tapi jarang kita temukan sebuah tulisan yang mengajak kita untuk melihat kembali apa sebenarnya makna perempuan itu. Baiklah, sebelum kemana-mana, saya ingin tunjukkan sebuah bait lagu yang sejak dulu hingga saat ini masih populer, dibawakan oleh Ebet Kadarusman. Tahu kan lagu Sabda Alam? Berikut liriknya.

“Diciptakan alam pria dan wanita
dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu
dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di sudut kerling wanita”

Seperti karya sastra lainnya, lagu pun memiliki makna yang hanya dipahami completely oleh si penciptanya. Begitu pun lagu Sabda Alam tersebut. Tapi sepaham saya, lagu tersebut ingin menceritakan tentang seorang perempuan yang dalam kodratnya sebagai “pengikut” lelaki. Pengikut dalam arti seorang perempuan yang taat pada lelakinya. Selain itu lagu ini juga berusaha menjelaskan bahwa walaupun seorang perempuan dalam kodratnya sebagai pengikut lelaki, tak selamanya perempuan tunduk pada seorang lelaki dan tak bisa menyuarakan apa yang ada dalam otak dan hatinya. Ada juga kalanya lelaki menjadi manusia yang unpowered tanpa adanya seorang perempuan. Atau, bisa saja perempuan menjelma menjadi seorang ratu yang ketika dia menitahkan sesuatu pada prajuritnya, maka mematuhinya adalah hal yang wajib. Seperti itu lah lelaki di beberapa momen tertentu. Ibarat es yang membatu, jika dihadapkan pada hawa yang panas maka perlahan ia mencair. Kira-kira seperti itu jika kita melihat dari sisi hubungan seorang perempuan dengan seorang lelaki.

Akan berbeda jika kita membicarakan tentang perempuan dari sisi agama khususnya Agama Islam. Semua orang muslim tahu bahwa perempuan mendapat tempat yang begitu spesial dalam islam. Ada dua peran yang begitu diagungkan oleh setiap muslimah di dunia ini. Peran menjadi seorang istri dan peran menjadi seorang ibu. Dua peran ini yang memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa perempuan dalam islam adalah sosok yang sangat memiliki arti. Semua muslim sadar bahwa kehadiran perempuan selalu bisa menjadi pelengkap, penyempurna. Duh.. akan sangat panjang jika membahas satu per satu jasa seorang perempuan dari segala sisi kehidupan.

Kembali menilik kata ‘perempuan’, saya juga ingin membahasnya etymologically. Setidaknya pasti ada yang berpikir mengapa saya lebih sering –bahkan setiap hari- menggunakan kata perempuan dari pada wanita atau cewek saat berbicara tentang related cases? Iya. Karena saya memang lebih suka menggunakan kata “perempuan” dari pada wanita. Anyway, kata perempuan merupakan Bahasa Sansekerta, berasal dari kata “empu” yang berarti “mulia”. Dari berbagai sumber, sejarah kata “perempuan” lebih mengandung makna positif dibandingkan dengan kata “wanita”. Sosok yang disebut perempuan pada zaman dahulu adalah sosok yang disegani, dihormati, dan dimuliakan. Namun memilih kata perempuan bukan berarti menginginkan diri untuk dimuliakan, tetapi setidaknya dengan panggilan yang baik seseorang menjadi lebih terpacu untuk menjadi benar-benar baik.

Melalui catatan kali ini, saya hanya ingin kita mengingat kembali tentang term of “perempuan”. Untuk pengetahuan yang lebih banyak dan lengkap silakan kalian cari tahu sendiri ya J Tapi yang jelas harapan saya, adanya nilai-nilai positif yang terkandung dalam istilah “perempuan” bisa menjadi alarm buat kita semua. Bagi perempuan sendiri, semoga bisa menjadi pengingat bahwa menjadi perempuan bukanlah hal yang disesalkan. Justru patut disyukuri karena jika dihitung-hitung, banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh perempuan namun tak akan mampu dilakukan oleh laki-laki. Dan bagi laki-laki, catatan ini hanya pembuka (belum ke isi J ) yang semoga cukup menjelaskan kalian bahwa perempuan itu makhluk yang istimewa yang diciptakan Tuhan, jaga dan sayangi ya J

DIA bukan dia

Kita tak pernah tau saat DIA benar-benar cemburu ketika kita terlalu mengharapkan dia. Saat dia menjadi yg pertama menghiasi relung hati dan hari kita tanpa banyak memikirkan DIA. Saat melihat dia menjadi momen paling bahagia tanpa mengindahkan kebersamaan dengan DIA. Dan saat ucapan dari dia mengesankan sekian makna tanpa berusaha memahami apa kata DIA.

Maka setelah itu jangan salahkan siapa atas apa yang kita alami dan lihat di depan mata. Hai, kamu.. Aku ingin bilang bahwa itu semua bukan sebab aku yang terlalu naif dalam merasa, bukan pula sebab kamu yang begitu sayang. Tapi sebab DIA yang tak rela kita mendua. Bukan kamu menduakan aku atau aku menduakan kamu, tapi kita menduakan DIA.

Teruntuk para hati yang dalam keyakinannya pada dia.. Meski tlah dalam rasa tersimpan dalam sepi, meski tak jeda do’a terlayang di setiap sunyi, tetap lah pada DIA harapan tertinggi.. Bukan pada dia yang daya sekecil apapun tak dimiliki..

Karena sedikit saja DIA cemburu, akan terlalu banyak caraNYA menyelipkan ragu.. Hingga tak tertinggal satu jejak pun tentang dulu. Dan kata “iya” yang kamu dan dia yakinkan ada, seketika memunculkan tanya. Lalu menerangkan kata “tidak” yang menyisakan luka.

Harapku, semoga dia selalu ada karena DIA yang selalu dihadirkan..

19:50
Lombok Timur, dengan Kamis malam yang gerimis 😊

Gelap

Kutemukan ‘ia’ saat segalaku tak berarah
ia mengiba tuk singgah
Hiburi hati hingga bermegah
Siapa sangka, ia kah cahaya? Dusta?
Sampai memandang tak melihat
Sampai mendengar tak menyimak
Hingga tau tak paham

Sadarkah?
Dalam jiwa tenggelam

Pun sesinar tiada sapa
Adakah Yang Melihat?
Adakah Yang Mendengar?
Gelap…

Bertanya pada mereka terjawab peluh
Bercermin pada air namun keruh
Lalu kuberlari menjauh dengan bimbang penuh
Ku terus bertanya, ada kah tujuku?

Satu-satu berhimpun celah
Hingga tersapa cahaya membias
Terangkan tanda Yang Melihat
Jelaskan jejak Yang Mendengar
Gelap…

Rupanya ia tulinya hati
Rupanya ia butanya jiwa
Perlahan saksikanlah..
Cahaya selipkan untung
Tak tentu sama dengan yang serupa
Sungguh, diri Ada Yang Mencinta

From Differences, We are United!

13781863_148594322211510_8710084847306483657_n

All of us have various different backgrounds: different country, different skin color, different race, different ethnic, different religion, different culture, different education background, different goals. Yet this area we called EcoFarm Lombok united all of us, and a care made us one.

I’m Herlina from Indonesia (Left to right). They are Carina, Mandy and Emily from Taiwan. She is Ibu from Indonesia and he is Amila from Sri Lanka. The last but not the least, they are Habibi and Papuk from Indonesia. Emily, Carina, Mandy and Amila were all bringing their specialties from their own countries, and they found many differences appearing on me and in my country, Indonesia.

Carina, Mandy and Emily have white skin color. Amila tends to have black skin color. While Papuk, Habibi, Ibu and me have brown skin color. Emily, Carina, and Mandy came with their belief that there is no God. Amila came along with his belief that Nature is the one he believe in. The rest are Muslims including me, wherein Allah is the one and only God we believe in.

All of us being here with different business. Emily, Carina and Mandy came for researching and internship, Amila for documenting ecofarmers and ecovillagers activities, and we were as the host to service, guide and accompany them reaching their goals. We enjoyed our days as brothers and sisters.

We know and realize that we are from various background. Yet does it make us treat each other differently? I often remember what Amila said, “even though we are in various differences, we are in one frame, under the same sky and stomping our feet in the same earth”. Any other greater equality? The equality helps us to meet and build relationship. As new family.

Establishing good relationship is about how far we could understand people. We are aware that all human in the world have different brain structure and different way to feel something that occur from different soul. And we have to understand the differences in order to have great relationship.

Understanding differences means understanding what inside the people. It’s able to start from knowing their characteristics. We often meet people with no space for us to speak when being communicating with them. That means the people expect to be much listened than to listen. We also many times meet people having no desire to say something first even just a word “hello”. That means we are demanded to be more active and friendly to them. Everything in case of that is under our control. I believe that how people treat us is in line with how we treat them first. Just give your smile then accept it back even more than a smile: a hug 🙂

I just want to remind you that people bring their own perception about the way you serve, the way you speak, the way you hear and the way you look at them. What you feel about them tends to get inside them. Hence, please -either your feeling, your utterance or your deed- be kind and positive 🙂

Outer Beauty vs. Inner Beauty

“Si A itu gimana?” “si A itu cantik, putih, tinggi ……..”

Jika diperhatikan, ketika seseorang bertanya pada orang lain tentang ciri atau karakteristik seseorang, orang tersebut seringkali mendeskripsikan secara fisik. Dari wajah, warna kulit, postur tubuh, dsb. Jika terlihat bagus secara fisik, maka masuk lah orang yang dideskripsikan tersebut ke dalam kategori “cantik”. Saya yakin di antara kalian pasti bilang “ah nggak juga, cantik itu relative kok”. Iya, banyak yang bilang bahwa cantik itu relative. Tapi umumnya, kebanyakan orang menilai cantik itu pertama kali dari fisik. Saya ingin bertanya pada kalian, jika kalian bertemu dengan seorang perempuan yang berwajah rupawan, apa kata pertama yang ada dalam pikiran kalian? Pasti kata “cantik”, kan?

Dari hasil survey ke 30 orang, saya mendapat beragam jawaban dari mereka. Ketika saya bertanya cantik itu apa, kira-kira ringkasan jawabannya seperti ini “cantik itu yang enak dipandang”, ada juga yang jawab “cantik itu seperti istriku”, “cantik itu bukan dari fisik tapi dari hati”, “cantik itu yang murah senyum”, “cantik itu yang berpenampilan simple”, dan sebagainya. Ohya, saya tidak memasukkan jawaban dari interviewee yang bilang “cantik itu relative” ya… karena terlalu mainstream bagi saya. Hehe..

Sekarang coba kita fokuskan pembahasannya sesuai judul. Ada dua jenis cantik: Cantik yang RUPAWAN dan cantik yang MENAWAN. Ini adalah dua jenis cantik dari dua cara pandang yang saaangat berbeda. Jika dijabarkan pengertiannya satu-satu bakalan kepanjangan. Hihi.. Intinya, cantik yang rupawan itu berdasarkan yang dilihat, dan cantik yang menawan itu berdasarkan yang dirasa 😊. Nah kalau dilihat dari jawaban interviewee di atas, kira-kira termasuk dalam cara pandang yang mana ya? Kalau kalian termasuk yang mana?

Well, terlepas dari cara pandang tersebut, kata “cantik” tetap lah kata baku yang sejak dulu hingga sekarang memiliki arti sama dalam KBBI yaitu elok wajahnya. Tapi saya setuju sama kalian yang bilang bahwa cantik itu tak hanya elok wajahnya namun juga anggun perilakunya. Ini hanya cara pandang lho ya. Nah dari sini lah dua jenis kecantikan itu akan mulai kita bicarakan lebih dalam. Khususnya tentang bobot kebutuhan masing-masing jenis kecantikan itu untuk dimiliki oleh setiap perempuan. Simplenya, kita akan bertanya “mana sih yang lebih penting untuk dimiliki seorang perempuan, Cantik yang Rupawan atau Cantik yang Menawan?” Agar lebih familiar, kita sebut cantik yang rupawan dengan sebutan Outer Beauty dan cantik yang menawan dengan sebutan Inner Beauty.

Sebenarnya kedua kecantikan itu sama-sama penting untuk dimiliki. Kalian semua pasti setuju kan? 😊 Outer beauty yang artinya kecantikan luar seperti wajah dan tubuh adalah nikmat dari Tuhan yang patut disyukuri dan wajib dijaga. Maka tak salah jika semakin hari semakin banyak saja produk kecantikan yang kita temukan dengan seabrek merk dan kelebihan yang ditawarkan. Tak salah juga bagi seorang perempuan yang beli ini beli itu coba ini coba itu untuk mempercantik diri (tanpa merubah apa yang ada lho ya). Karena memang SEMUA perempuan pada hakekatnya ingin tampil cantik (dengan caranya sendiri). Lalu apa yang menarik untuk dibicarakan di sini? Yang perlu dikoreksi dari seorang perempuan yang ingin mempercantik diri adalah -sebut saja- tujuannya. Untuk apa mempercantik diri? Menjaga pemberian Tuhan memang alasan yang pas. Namun selain itu? Saya yakin ada embel-embel alasan yang seringkali kita tak ingin orang lain tahu seperti, “agar tampil lebih PD”. Iya kan? 😊 Jika alasannya itu, coba dikaji lagi ya teman-teman khususnya untuk para perempuan. Tampil berarti kita berada di depan banyak mata. Tampil PD karena wajah cantik berarti kita sadar bahwa kita merasa lebih nyaman jika dilihat elok oleh orang lain. Ini yang perlu dikoreksi. Mempercantik diri memang harus, tapi tidak dengan tujuan agar kecantikan diri bisa dilihat oleh orang banyak. Tidak dengan tujuan itu.

Lalu bagaimana dengan Inner Beauty? Ini nih… Saya yakin rata-rata orang paham dengan istilah ini. Baik lelaki maupun perempuan saya yakin paham dengan istilah Inner Beauty yang berarti cantik dari dalam, meskipun kadang orang merasa sulit untuk menjabarkan makna cantik dari dalam itu seperti apa. Dari lubuk hati terdalam 😊, SEMUA perempuan juga mendambakan kecantikan jenis ini, walau usaha untuk mendapatkannya tak terlihat. But unfortunately, tak semua perempuan memiliki kecantikan seperti ini. Tak semua perempuan mampu “membeli tools” untuk mendapatkan jenis cantik yang disebut Inner Beauty ini. Berbeda dengan Outer Beauty yang bisa didapatkan dengan mudah di toko-toko kosmetik atau di salon kecantikan 😊, tutorial merawat Outer Beauty juga sangat bejubel di YouTube 😊. Tapi Inner Beauty?? Di mana mendapatkannya? Bagaimana merawatnya?

Coba kita ingat-ingat lagi makna Inner Beauty. Bisa saja kita mengartikannya sebagai sebuah kecantikan yang terpancar dari dalam hati. Sebuah keindahan yang berada di dalam hati yang memancarkan sinarnya ke seluruh anggota tubuh seperti mata, bibir, tangan, kaki dsb. untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang dititahkan oleh sang hati. Dari sini lah kecantikan itu dirasakan oleh orang-orang sekitar kita. Tak terlihat. Namun pesona kecantikan jenis ini selalu bisa menebarkan rasa nyaman, kagum, dan menarik bagi orang lain. Dari sini, teman-teman sudah bisa menerka bagaimana mendapatkan kecantikan jenis ini kan? Iya. Jawabannya adalah dengan terus belajar dan berproses menjadi lebih baik. Pelan-pelan, Inner Beauty dari seorang perempuan pasti akan terpancar dengan sendirinya. Percaya?

Tapi pertanyaannya, apakah Inner Beauty lebih penting untuk dimiliki seorang perempuan? Atau justru Outer Beauty jauh lebih penting? Sebenarnya kedua kecantikan ini sama-sama penting jika mengingat alasan yang saya uraikan di paragraf ke lima di atas. Yang semestinya ditanyakan adalah mana yang lebih utama untuk dimiliki. Sepertinya kita akan sepaham mengenai hal ini. Kalian setuju kan jika saya bilang bahwa Inner Beauty adalah jenis kecantikan yang sangat penting dan mestinya diutamakan? Namun bukan berarti Outer Beauty dilupakan. Inner Beauty harus menjadi urutan pertama yang wajib dirawat dan dijaga oleh seorang perempuan, namun Outer Beauty adalah hal yang penting juga untuk dipertahankan terlebih oleh seorang perempuan yang berpredikat sebagai istri yang harus tampil cantik di depan suami. Meskipun kita tentu sadar keniscayaannya, yaitu terkikisnya ia oleh waktu dan usia. Saya ingat sebuah kalimat dari seorang motivator muslim yang saya kagumi, Felix Y. Siauw. Kesimpulan dari kalimatnya kira-kira seperti ini: Outer beauty memang memikat, namun hanya Inner Beauty lah yang mampu mengikat. Kalimatnya cukup dimengerti.

Semoga setelah ini para perempuan akan lebih fokus mencari Inner Beauty nya dari pada sibuk mengurus Outer Beauty. Tapi sebenarnya tak perlu dicari sih ya, cukup look inside your heart (kata Mariah Carey 😊). Mungkin bisa diawali dulu dengan muhasabah (Bahasa Arab) atau dikenal dengan istilah evaluasi diri. Apa yang kita lakukan selama ini? Apakah sudah bernilai baik? Atau malah banyak keburukan yang mengisi Have-done List kita. Lalu apa tindakan kita? Dan apa saja yang akan kita lakukan dalam hidup kita ke depan? Apakah itu akan cukup memberikan manfaat minimal untuk diri sendiri dan keluarga? Jika pertanyaan ini sudah dijawab, make sure bahwa kita siap untuk take action dan menikmati segala proses di dalamnya. Semangat!!!

sumber foto: google

Tips ‘Move On’ ;)

To the point, sebenarnya ‘move on’ itu gampang-gampang susah -ya nggak sih?-. Dan semua orang pasti pernah mengalami yang namanya move on. Bukan hanya tentang move on dari sang mantan tapi juga move on dari hal hal lain seperti move on dari kebiasaaan lama dsb. Tapi di sini saya akan membahas in case of move on dari sang mantan ya atau dari siapapun yang dicintai namun tak dapat dimiliki (asiik nih bahasanya. Haha).. But wait! Move on itu artinya apa ya? Baik, mari kita sama-sama mengartikan. ‘Move’ artinya berpindah dan ‘on’ artinya di, jadi artinya adalah berpindah di (??!!??? Toeng….) Oke kali ini serius ya. Kata move on tidak bisa diartikan per kata karena ia termasuk dalam jenis phrasal verb dalam Bahasa Inggris. Move on sendiri dalam artinya adalah melanjutkan atau berjalan terus. Namun di Indonesia, move on sudah menjadi kata serapan karena penggunaannya sangat sering dan tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yg bermakna sama dengan kata move on versi orang Indonesia.

Saya yakin kita semua sudah tahu move on itu apa. Move on diartikan berpindah hati (ini karena saya ingin bahas tentang move on dari seseorang di masa lalu ya, orang menyebutnya ‘mantan’.haha).. Oh ya sebelum ngomong jauh, saya ingin memaklumkan bahwa tulisan ini bukan sepenuhnya pengalaman pribadi penulis tapi juga pengalaman banyak orang. Jadi cukup representative lah ya. Back to the topic, move on diartikan berpindah hati dari seseorang di masa lalu menuju seseorang yang baru. Tahu kan ya kalimat ejekan satu ini “woe move on dong, move oonnn! Masak mikirin mantan terus?!”. Nah itu salah satu kalimat di mana kata move on digunakan di Indonesia.

Segitu dulu ya untuk arti dan penggunaan kata move on. Sekarang kita balik membahas sesuai judul tulisan ini: tips move on. Dari pengalaman banyak orang, ada beberapa tips move on yang berhasil saya saring dan saya percaya kemanjurannya. Berniat untuk move on adalah tips pembuka dalam tulisan ini. Tentu saja semua hal apapun itu pasti berawal dari niat termasuk move on. Kemudian tips kedua yang harus kamu lakukan adalah mengingat saran yang kamu dapat dari tulisan ini. Ingat baik-baik ya saran saya: JANGAN PERNAH BERUSAHA MELUPAKAN SANG MANTAN. Karena percaya nggak percaya, semakin kamu berusaha melupakan seseorang, kamu akan semakin mengingatnya. Kamu akan mengingat dan semakin ingat bahwa kamu harus melupakan dia. Tiap hari kamu akan mengingat bahwa kamu harus bisa melupakan dia. Sama aja bohong kan? Jadi, kita tidak perlu melupakan siapapun dalam hidup kita. Everyone must bring a lesson to learn. Setiap orang yang kita temui pasti membawa pelajaran berharga yang bisa menjadikan kita lebih baik.

Selanjutnya, ingatlah mantanmu. Seperti yang saya mention sebelumnya bahwa untuk move dari mantan kita tak perlu melupakannya. Justru mengingatnya adalah lebih baik. Tapi tunggu dulu, mengingat seperti apa dulu? Adalah mengingatnya sebagai sosok lain. Jika dulu dia adalah sosok special yang kamu sayang, maka sekarang dia hanya sosok yang kamu anggap saudara, sama seperti kamu menganggap teman-temanmu yang lain. Ya, dia adalah seorang teman biasa. Lalu yang tak kalah penting untuk kamu lakukan adalah jangan pernah menghapus kontak mantan, baik kontak pribadi atau pun sosmednya. Kenapa sih harus hapus kontak segala? Biar kamu nggak liat dia dan teringat sama dia gitu? Sebegitu berpengaruhnya kah dia buat kamu? Itu berlebihan ya buat saya. Kenapa sih nggak berlaku biasa saja? Dia kan udah jadi mantan nih, ya udah sekarang dia hanya teman. Tega banget sih hapus kontak teman sendiri? Hihii

Selain tips di atas, kamu juga bisa lakukan yang satu ini, yaitu menyibukkan diri dengan hal-hal positif, akan lebih keren jika hal positif itu adalah hobi kamu sendiri. Berkegiatan sosial yang berbau sukarela misalnya. Di kegiatan-kegiatan sosial, kamu akan menemukan banyak teman baru, pengalaman baru, yang akhirnya menjadi cerita baru dalam hidup kamu. Dan itu nggak sembarangan. Pengalaman di dunia sosial yang bersifat sukarela itu berharga sekali. Karena ia bukan hanya menyuguhkan manfaat duniawi tapi juga manfaat ukhrawi. Dan saya berani jamin deh, jika kamu bertemu banyak teman baru, pengalaman baru, God willing, sedikit demi sedikit pasti wawasanmu akan bertambah, pemikiran baru yang lebih kece dari sebelumnya, daaaaan welcome to hati yang baru.. yeeeaaay!!! Hihi

Well… itu lah beberapa tips move on yang bisa saya sajikan dalam tulisan ini. Once, tips move on yang dibaca di sini nggak menjamin 100% keberhasilan kamu untuk move on loh ya. Bisa jadi tips ini mempan hanya untuk segelintir orang. Masing-masing orang punya solusi sendiri untuk masalah yang dihadapi. Kalian yang lebih tahu hidup kalian. Bukan orang lain. Tapiii, nggak ada salahnya juga untuk mencoba tips ini, siapa tahu manjur. hehe